Blog

Perihal Sound System Gereja: Bagian II

Tuesday, April 21, 2009

Hari ini saya kembali ke gereja bersama beberapa teman saya. Hari ini kami memang sepakat melakukan cek suara untuk pementasan drama musikal di bulan Mei nanti. Terus terang uneg-uneg saya sudah keluar semua ketika saya menulis tentang “Perihal Sound System Gereja” beberapa saat lalu, dan semoga kompilasi protes saya tersebut sampai ke telinga siapa pun yang mempunyai wewenang. Sayangnya, hari ini saya dikejutkan lagi dengan apa yang saya lihat sendiri, dan saya rasa saya punya hak untuk menyuarakan pendapat saya:

Mikrofon Gereja

Beginilah bagaimana mereka menyimpan mikrofon-mikrofon gereja. Mereka tidak disimpan di dalam boks mereka masing-masing. Tidak. Mereka dionggokkan saja seperti halnya barang bekas yang tidak berguna, di dalam sebuah kardus yang, maaf saja, tidak terlihat layak untuk digunakan sebagai tempat penyimpanan perlengkapan tata suara gereja. Lagipula, separah-parahnya kualitas sebuah mikrofon, apakah ini hal yang pantas untuk dilakukan? Pantas saja kalau baret dan cacat pada konstruksi mikrofon-mikrofon tersebut semakin lama semakin bertambah, dan saya pun tidak heran kalau satu atau beberapa dari mikrofon-mikrofon ini umurnya tidak sepanjang yang seharusnya.

Jadi, pertanyaan saya pada “yang punya gereja”, apakah menurut Anda, diri Anda qualified untuk berkomentar “Jangan! Nanti rusak!” pada teman saya yang jelas-jelas lebih profesional dari Anda? Sedangkan Anda sendiri, yang seharusnya berwenang untuk mengatur hal ini, yang seharusnya “berpengalaman lebih”, memperlakukan mikrofon-mikrofon ini seperti sampah. Mikrofon-mikrofon ini bukanlah sebuah kerupuk yang bisa Anda beli setiap hari, yang juga tidak terlalu berharga apabila jatuh ke tanah.

Untuk informasi pembaca, mikrofon-mikrofon ini bermerk AKG, Shure, dan ada juga beberapa Sennheiser, yang tentunya bukanlah mikrofon kelas teri dan dibeli dengan harga yang tidak murah juga. Seperti sembilan buah AKG C 1000 S yang terlihat pada foto contohnya, harga satuannya sekitar USD 220. Jadi kita telah menghabiskan sekitar 18 juta Rupiah untuk mikrofon-mikrofon ini. Anggaplah mikrofon-mikrofon ini dibeli dengan harga pasar yang berlaku. Apakah ini yang kita lakukan pada benda-benda seharga 18 juta Rupiah? Benda-benda ini bahkan lebih mahal daripada motor bebek.

Jadi, “yang punya gereja”, sampai kapan Anda akan bertahan dengan logika Anda yang hebat itu? Kalau saya pribadi, saya rasa saya akan tetap pada pendapat saya bahwa berbicara pada tembok akan lebih bermanfaat daripada mencoba memberi pengertian pada Anda. Atau mungkin karena ini tidak dibeli dengan uang Anda, maka Anda pun tidak perlu peduli. Ah… Toh kalau rusak, bisa dibeli lagi dengan uang persembahan jemaat, bukan? Jadi buat apa juga Anda harus peduli?

Perihal Sound System Gereja

Friday, April 10, 2009

Pagi ini saya ke gereja untuk mengikuti ibadah Jumat Agung di kebaktian umum pada jam 9 pagi. Memang saya sudah beberapa kali belakangan ini agak “sensitif” dengan kualitas suara pada sound system gereja, tapi baru kali ini saya baru benar-benar berinisiatif untuk sedikit mengeluh tentang ini. Spontan saya update status saya di Twitter (yang secara otomatis status Facebook saya juga ikut ter-update) sebagai berikut:

Apparently the church’s sound system mixer volume are all maxed out with almost no margin. Very “smart”. Where is the logic in these people?

Maaf sekali kalau ada pihak yang tersinggung, saya memang orang yang suka bicara apa adanya, dan saya tidak suka mentutup-tutupi hal-hal yang menurut saya memang pantas dikeluhkan. Beberapa jam setelah kebaktian, saya lalu mengecek account Facebook saya dan melihat bahwa salah satu teman saya pun sudah mengomentari status ini:

dibutuhkan sumbangsih untuk berpikir bareng2 jalan keluar yang terbaik untuk semuanya… kalau untuk logic kayaknya ada d.. cuma yang kurang pengetahuannya.. so yang pinter-pinter di bidang ini … dibutuhkan disini…. he..he..he.. talk less do more.. :)

Oke, kalau begitu saya akan sumbangkan pendapat saya di sini yang saya harap bisa mewakili sekian banyak keluhan teman-teman saya yang berpendapat sama, dan apa yang menurut pandangan saya menyebabkan kami menjadi “malas” untuk bahkan berinisiatif mau membantu. Sekali lagi, saya hanya mengutarakan pendapat saya, dan karena begitu banyaknya orang sensitif di sekitar kita, saya harus ingatkan, kalau tidak siap mendengar uneg-uneg saya, silakan menutup browser Anda. Tidak ada paksaan di sini, dan tentunya Internet adalah forum bebas tempat saya boleh mempergunakan hak bicara saya.

Pertama, menurut saya, ini bukan masalah pengetahuan, tapi memang masalah logika saja. Saya rasa kebanyakan orang awam pun (bahkan saya pun bukan orang yang bekerja di bidang sound engineering), bisa membedakan kalau suara sound system di gereja pagi ini terlalu “cempreng”, dan logisnya suara bagian bawah (Low) haruslah ditambah. Untuk apa kita punya sound system dengan harga mungkin ratusan juta, namun hanya bisa mengeluarkan suara yang setara dengan layar tancap kompleks dekat rumah? Dan tentunya dengan pengalaman operator yang setelah sekian tahun mengoperasikan hal ini, bukankah sudah saatnya ada pembelajaran yang masuk?

Kedua, banyak dari teman-teman saya yang sudah rela ingin membantu memperbaiki kondisi kualitas suara gereja kita ini, tetapi tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan seingat saya, sudah ada beberapa pelatihan yang dilakukan. Contohnya, beberapa tahun yang lalu, salah satu teman saya mau mencoba memperbaiki pengaturan mixer gereja, tetapi malah disambut oleh “yang punya gereja” dengan komentar, “Jangan! Nanti rusak!” Padahal teman saya ini memiliki studio musik dan usaha rekaman sendiri dengan peralatan yang jauh lebih baik dengan apa yang dimiliki gereja saat itu. Tentunya orang ini adalah seorang profesional yang mengerti apa yang dikerjakannya, apalagi dia juga seseorang yang kuliahnya pun jurusan musik. Alhasil teman saya ini hingga sekarang lebih memilih untuk tidak membantu memperbaiki sound system gereja. Apa boleh buat? Mungkin dia sudah kecewa dengan perlakuan yang didapatnya.

Contoh lain, saya ingat betul waktu itu ada paman teman saya yang juga bergerak di bidang yang sama, mau dengan sukarela membantu mengatur sound system gereja kita ini sehingga menjadi lebih baik. Hasilnya? Terus terang saya lupa apakah menurut pihak tertentu, paman teman saya ini visinya tidak sama dengan gereja atau paman teman saya ini tidak memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Lho kok lucu? Apapun alasannya, apa hubungannya visi gereja dengan keinginan seseorang yang mau membantu mengoptimalkan kualitas suara gereja? Toh paman teman saya ini kan bukan teroris yang jelas-jelas visinya tidak sama dengan gereja, dan dia memang seorang sound engineer yang memiliki kualifikasi yang saya kira pantas untuk pekerjaan seperti ini.

Contoh lain lagi, salah satu teman saya juga sempat mengajarkan bagaimana menggulung kabel mikrofon dengan benar ke karyawan gereja. Teman saya ini juga seorang musisi dan profesional di bidangnya, yang tentunya juga berharap bisa membantu gereja agar perlengkapan tata suaranya bisa dipelihara dengan baik. Lagi-lagi “yang punya gereja” mengeluh, “Males lah, lama kalo gulungnya begitu.” Kalau saya berada di tempat teman saya ini, tentunya saya akan lebih memilih untuk bicara pada tembok. Paling tidak, tembok tidak balas menjawab dengan komentar yang tidak berkualitas.

Sekarang jelas kan? Tidak aneh kalau kami lebih memilih untuk membawa mixer sendiri ketimbang mengandalkan gereja. Terus terang, saya akan lebih tenang kalau saya bisa mengatur keseimbangan suara instrumen saya sendiri.

Ketiga, saya sering sekali mendengar komentar “Kalau mau bagus, ya bantuin dong!” berseliweran setiap kali ada keluhan tentang sound system gereja. Oke, sekarang ini kembali ke panggilan pelayanan masing-masing. Terus terang, setelah beberapa kejadian seperti contoh di atas dan juga yang telah saya alami sendiri, saya sedikit patah arang untuk mau melayani di bidang ini. Menurut saya pribadi, seharusnya seberapa berat pelayanan seseorang, itu menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mendekatkan orang tersebut pada Tuhan. Dalam hal ini, saya dan mungkin beberapa orang lainnya lebih sering dikecewakan.

Pernah beberapa teman saya juga sudah membantu menjadi operator sound system di gereja. Maaf kalau ini hanya pengamatan saya saja, tapi kok saya malah melihatnya seperti teman-teman saya ini “dikerjai”, dan mereka diharapkan untuk menjadi operator sound system setiap minggu, dan setiap minggu mereka diharapkan untuk standby pada ketiga jam kebaktian. Saya adalah orang yang realistik, pelayanan sih pelayanan, tapi apakah ada orang yang mau setiap minggu standby dua jam sebelum dan sesudah tiga kali kebaktian? Dan karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang krusial, bukankah lebih baik gereja mempekerjakan sumber daya manusia yang memang ahli di bidangnya? Lalu biarkanlah orang ini yang menentukan sendiri apakah honor yang diterimanya mau dianggap sebagai persembahan atau tidak. Saya rasa gereja kita mampu untuk ini apabila dana yang kita miliki dipergunakan dengan sebaik-baiknya, apalagi ini kan juga untuk kelancaran ibadah.

Akhir kata, sekali lagi, semoga ini bisa menjadi kompilasi dari sekian banyak keluhan yang sering saya utarakan dan sering saya jumpai dari minggu ke minggu. Dan kalau menurut Anda pendapat saya ini tidak akurat, ya silakan saja dibuktikan mana yang benar, saya sih tidak keberatan selama ini untuk kebaikan gereja.