This Should Be Illegal in Facebook
Friday, March 19, 2010
Friday, March 19, 2010
Sunday, December 27, 2009
Thanks to Andira, I have now fallen into the Tumblr trap! :D Well, actually, it’s because we’re gathering Indonesian iPhone users for a collaborative project (that I cannot tell you at the moment), which requires me to have a Tumblr account. So why not use it for something, right? Right. That’s why from now on, my small posts, quick notes, or one off photos will be posted there, and I’m keeping my blog for long and read-worthy posts.
I’m also trying to link everything to my Twitter and Facebook account. So if you can find me here or there, you’ll find me on Tumblr.
So, here it is: notes.bellamybudiman.com
Monday, June 22, 2009
I had the idea on writing this entry earlier tonight, when I was having a threaded conversation on Twitter with Aulia Masna and Pria Purnama on a statement started by Amir Karimuddin. You can see the thread immortalized by Pria here, to get a sense on what I’m talking about here. Long story short, there has always been a great debate between which one is better. Twitter or Plurk? Each has its own loyal users, and each has their own niche. Or so they said, at least from my perspective.
As a web 2.0 adopter, I sometime feel the urge to try these different kinds of social networking sites. I have to admit that I left most of them with no updates, or to make my life easier, just as mirrors to what I’ve been doing on my social networking site of choice. As to this point, I subjectively chose Twitter to be my favorite. Why? Well there tons of reasons. I even like this better than Facebook, and to prove my point, even Facebook wants to be like Twitter. Without trying to sound like I’m endorsed by Twitter, here are some of the reasons why:
Now let’s take a look at Plurk:
I think it’s clear on why I chose Twitter over Plurk. It offers me a great deal of flexibility and accessibility as a designer and an occasional programmer, which is probably what the web 2.0 is all about for me. I have to stress that this is my point of view, it doesn’t mean that I’m starting a war between Plurkers and Tweeters. I do have my own Plurk account as well, but I simply don’t care about it.
And oh, before I forgot, since this post could possibly bring out a gunfight, especially when it appears as a note on my Facebook account, on behalf the geeks (geeks, not nerds, or dorks in case you can’t differentiate that) that I know on Twitter, if you don’t even have a clue on what I’m talking about here, please don’t even try to make a comment that will potentially humiliate yourselves. Geeks, you know what I’m talking about, and you know that I have to be extra specific in explaining things like this to people like them :D
Friday, April 10, 2009
Pagi ini saya ke gereja untuk mengikuti ibadah Jumat Agung di kebaktian umum pada jam 9 pagi. Memang saya sudah beberapa kali belakangan ini agak “sensitif” dengan kualitas suara pada sound system gereja, tapi baru kali ini saya baru benar-benar berinisiatif untuk sedikit mengeluh tentang ini. Spontan saya update status saya di Twitter (yang secara otomatis status Facebook saya juga ikut ter-update) sebagai berikut:
Apparently the church’s sound system mixer volume are all maxed out with almost no margin. Very “smart”. Where is the logic in these people?
Maaf sekali kalau ada pihak yang tersinggung, saya memang orang yang suka bicara apa adanya, dan saya tidak suka mentutup-tutupi hal-hal yang menurut saya memang pantas dikeluhkan. Beberapa jam setelah kebaktian, saya lalu mengecek account Facebook saya dan melihat bahwa salah satu teman saya pun sudah mengomentari status ini:
dibutuhkan sumbangsih untuk berpikir bareng2 jalan keluar yang terbaik untuk semuanya… kalau untuk logic kayaknya ada d.. cuma yang kurang pengetahuannya.. so yang pinter-pinter di bidang ini … dibutuhkan disini…. he..he..he.. talk less do more.. :)
Oke, kalau begitu saya akan sumbangkan pendapat saya di sini yang saya harap bisa mewakili sekian banyak keluhan teman-teman saya yang berpendapat sama, dan apa yang menurut pandangan saya menyebabkan kami menjadi “malas” untuk bahkan berinisiatif mau membantu. Sekali lagi, saya hanya mengutarakan pendapat saya, dan karena begitu banyaknya orang sensitif di sekitar kita, saya harus ingatkan, kalau tidak siap mendengar uneg-uneg saya, silakan menutup browser Anda. Tidak ada paksaan di sini, dan tentunya Internet adalah forum bebas tempat saya boleh mempergunakan hak bicara saya.
Pertama, menurut saya, ini bukan masalah pengetahuan, tapi memang masalah logika saja. Saya rasa kebanyakan orang awam pun (bahkan saya pun bukan orang yang bekerja di bidang sound engineering), bisa membedakan kalau suara sound system di gereja pagi ini terlalu “cempreng”, dan logisnya suara bagian bawah (Low) haruslah ditambah. Untuk apa kita punya sound system dengan harga mungkin ratusan juta, namun hanya bisa mengeluarkan suara yang setara dengan layar tancap kompleks dekat rumah? Dan tentunya dengan pengalaman operator yang setelah sekian tahun mengoperasikan hal ini, bukankah sudah saatnya ada pembelajaran yang masuk?
Kedua, banyak dari teman-teman saya yang sudah rela ingin membantu memperbaiki kondisi kualitas suara gereja kita ini, tetapi tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan seingat saya, sudah ada beberapa pelatihan yang dilakukan. Contohnya, beberapa tahun yang lalu, salah satu teman saya mau mencoba memperbaiki pengaturan mixer gereja, tetapi malah disambut oleh “yang punya gereja” dengan komentar, “Jangan! Nanti rusak!” Padahal teman saya ini memiliki studio musik dan usaha rekaman sendiri dengan peralatan yang jauh lebih baik dengan apa yang dimiliki gereja saat itu. Tentunya orang ini adalah seorang profesional yang mengerti apa yang dikerjakannya, apalagi dia juga seseorang yang kuliahnya pun jurusan musik. Alhasil teman saya ini hingga sekarang lebih memilih untuk tidak membantu memperbaiki sound system gereja. Apa boleh buat? Mungkin dia sudah kecewa dengan perlakuan yang didapatnya.
Contoh lain, saya ingat betul waktu itu ada paman teman saya yang juga bergerak di bidang yang sama, mau dengan sukarela membantu mengatur sound system gereja kita ini sehingga menjadi lebih baik. Hasilnya? Terus terang saya lupa apakah menurut pihak tertentu, paman teman saya ini visinya tidak sama dengan gereja atau paman teman saya ini tidak memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Lho kok lucu? Apapun alasannya, apa hubungannya visi gereja dengan keinginan seseorang yang mau membantu mengoptimalkan kualitas suara gereja? Toh paman teman saya ini kan bukan teroris yang jelas-jelas visinya tidak sama dengan gereja, dan dia memang seorang sound engineer yang memiliki kualifikasi yang saya kira pantas untuk pekerjaan seperti ini.
Contoh lain lagi, salah satu teman saya juga sempat mengajarkan bagaimana menggulung kabel mikrofon dengan benar ke karyawan gereja. Teman saya ini juga seorang musisi dan profesional di bidangnya, yang tentunya juga berharap bisa membantu gereja agar perlengkapan tata suaranya bisa dipelihara dengan baik. Lagi-lagi “yang punya gereja” mengeluh, “Males lah, lama kalo gulungnya begitu.” Kalau saya berada di tempat teman saya ini, tentunya saya akan lebih memilih untuk bicara pada tembok. Paling tidak, tembok tidak balas menjawab dengan komentar yang tidak berkualitas.
Sekarang jelas kan? Tidak aneh kalau kami lebih memilih untuk membawa mixer sendiri ketimbang mengandalkan gereja. Terus terang, saya akan lebih tenang kalau saya bisa mengatur keseimbangan suara instrumen saya sendiri.
Ketiga, saya sering sekali mendengar komentar “Kalau mau bagus, ya bantuin dong!” berseliweran setiap kali ada keluhan tentang sound system gereja. Oke, sekarang ini kembali ke panggilan pelayanan masing-masing. Terus terang, setelah beberapa kejadian seperti contoh di atas dan juga yang telah saya alami sendiri, saya sedikit patah arang untuk mau melayani di bidang ini. Menurut saya pribadi, seharusnya seberapa berat pelayanan seseorang, itu menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mendekatkan orang tersebut pada Tuhan. Dalam hal ini, saya dan mungkin beberapa orang lainnya lebih sering dikecewakan.
Pernah beberapa teman saya juga sudah membantu menjadi operator sound system di gereja. Maaf kalau ini hanya pengamatan saya saja, tapi kok saya malah melihatnya seperti teman-teman saya ini “dikerjai”, dan mereka diharapkan untuk menjadi operator sound system setiap minggu, dan setiap minggu mereka diharapkan untuk standby pada ketiga jam kebaktian. Saya adalah orang yang realistik, pelayanan sih pelayanan, tapi apakah ada orang yang mau setiap minggu standby dua jam sebelum dan sesudah tiga kali kebaktian? Dan karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang krusial, bukankah lebih baik gereja mempekerjakan sumber daya manusia yang memang ahli di bidangnya? Lalu biarkanlah orang ini yang menentukan sendiri apakah honor yang diterimanya mau dianggap sebagai persembahan atau tidak. Saya rasa gereja kita mampu untuk ini apabila dana yang kita miliki dipergunakan dengan sebaik-baiknya, apalagi ini kan juga untuk kelancaran ibadah.
Akhir kata, sekali lagi, semoga ini bisa menjadi kompilasi dari sekian banyak keluhan yang sering saya utarakan dan sering saya jumpai dari minggu ke minggu. Dan kalau menurut Anda pendapat saya ini tidak akurat, ya silakan saja dibuktikan mana yang benar, saya sih tidak keberatan selama ini untuk kebaikan gereja.
Thursday, March 19, 2009
In my line of work, as well as most of my friends who are active in the Web 2.0 industry, we all know that microblogging is one of the important aspects in our society. So if any of you are annoyed with the fact that we update our statuses that often, you can simply hide our update feeds from the Facebook homepage, and I’m sure no one would mind. It’s not like we force you to read our status updates or anything, the feature to filter it out is provided by Facebook and ready to be used anytime. So it’s not our fault if you don’t know your way around Facebook.
Another way is probably just to say it directly to the person, like what often do in Twitter.
But then again, we often met the “Talk First, Think Later” culture, which is a further proof that the not everyone was meant to use the internet. And if you can’t stand with what the Web 2.0 culture really is, then don’t be a part of it. Simple.
TGGPW//09