I watched the Day the Earth Stood Still yesterday. It was nothing as spectacular as when ID4 hits the theaters, but nonetheless, long story short, the movie was great.
Today, when I was browsing around, I stumbled across this. It is a review of the movie, by KapanLagi.com, one of Indonesia’s apparently-popular portal sites. When I read the review, I was shocked that the one who watched and wrote this thing was probably an idiot. My personal site is not that popular, I must say, but in case they changed the review after reading this post, I’m gonna quote it part by part, unedited. So here is the review, along with my comments, and yes I watched the movie, so I know what I’m talking about:
Klaatu (Keanu Reeves) adalah makhluk luar angkasa yang mendarat di Washington DC bersama Gort, sebuah robot canggih, dengan sebuah pesawat ruang angkasa. Pada saat baru keluar dari dalam pesawat, Klaatu ditembak oleh tentara yang merasa terkejut dengan kemunculan pesawat aneh ini.
WRONG. They landed on Manhattan. For your idiotic geographical and demographical knowledge, Central Park is in New York, not DC. He may have landed in DC on the original version, but not here. And the army? Surprised? So the writer explained this as if Klaatu just popped out of thin air and they mistakenly hit the triggers because of reflex. THEY WERE ORDERED TO FIRE.
Untungnya Gort kemudian datang dan melelehkan senjata para tentara yang ada di sana tanpa melukai seorang pun yang ada di lokasi tersebut. Ternyata, Gort memang tak pernah bermaksud melukai siapa pun. Gort hanya bermaksud melindungi Klaatu.
WRONG. GORT deactivated the weapons, not melting them.
Klaatu kemudian dibawa oleh para tentara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Saat berada di rumah sakit, Klaatu kemudian memutuskan untuk melarikan diri agar dapat membaur dengan penduduk planet Bumi ini.
WRONG. They took him to a military medical facility. And did he escape just to blend in? Definitely not. At this point, I really wondered whether the article writer really gets the whole idea of the movie or not.
Klaatu kemudian bertemu dengan Helen Benson (Jennifer Connelly) yang kemudian mengajak Klaatu untuk berkeliling kota. Helen awalnya tak menyangka bahwa Klaatu adalah makhluk dari planet lain. Namun seiring kedekatan mereka, Helen mulai curiga dan meminta penjelasan pada Klaatu.
Klaatu akhirnya membuka rahasia dan menyampaikan maksud kedatangannya ke Bumi. Klaatu dan Gort adalah makhluk luar angkasa yang bertugas memutuskan apakah sebuah planet harus dihancurkan atau dibiarkan tetap ada.
Dude, seriously, Helen WATCHED Klaatu went out from an impossibly fast sphere with a controlled trajectory, WATCHED him turned from a heap of alien placental meat into a man, and even HELPED the medical officers analyze his DNA. In what way can she really doubt that he’s an alien? You must be lacking brain cells.
Remake dari film berjudul sama yang dilepas sekitar tahun 1951 ini mencoba mengusung tema yang mirip dengan WAR OF THE WORLD. Scott Derrickson, sang sutradara, berusaha untuk tetap konsisten terhadap naskah asli dari film yang dulunya diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya Harry Bates.
Dari waktu ke waktu, film dari genre fiksi ilmiah memang sering kali dijadikan sebuah ‘kamuflase’ untuk menyamarkan pesan moral atau politik yang sebenarnya ingin disampaikan. Dan dalam beberapa kasus, pesan tersebut memang tersampaikan dengan baik seperti pada versi original dari film ini. Di saat itu, isu mengenai perang dingin dan penghancuran umat manusia dengan nuklir memang sedang gencar-gencarnya. Dan film ini mencoba menyelipkan pesan-pesan moral ini lewat metafora yang terwujud dalam alur kisah film ini.
Yang jadi masalah pada versi tahun 2008 ini adalah bahwa isu itu sudah bergeser dan tak lagi relevan dengan kondisi saat film pertama dibuat. Konsekuensinya memang sang sutradara harus membuat sedikit penyesuaian agar tak terasa janggal. Dan anehnya di sini Scott Derrickson malah berusaha membuat film ini ‘sedekat mungkin’ dengan naskah film versi tahun 1951 meski sebenarnya ada beberapa detail yang mulai diubah. Hasilnya, film ini jadi terasa janggal dan tak sesuai dengan kondisi saat ini.
Okay, the 1951 version was talking about the cold war and nuclear missiles. This year’s version was talking about how humanity destroys the world by their own consent. In what way does this make the movie irrelevant with the current conditions?
Untungnya, dari sisi visual film ini cukup ‘menyenangkan’ tentunya ini hasil dari para pakar efek visual yang berdiri di balik pembuatan film ini. Walaupun begitu, untuk menyebut efek visual yang disajikan film ini sebagai sesuatu yang benar-benar fresh mungkin agak sulit. Beberapa film sebelumnya sebenarnya juga menyajikan efek visual yang tak kalah hebatnya.
Okay, nothing so “spectacular” here. Move along…
Pemilihan Keanu Reeves sebagai pemeran Klaatu memang tepat. Wajah Keanu yang memang terlihat seolah tanpa emosi rasanya pas sekali memerankan tokoh Klaatu yang sebenarnya adalah robot. Namun akting Jennifer Connelly yang memerankan Helen Benson juga tak bisa dianggap remeh. Sebenarnya, film ini cukup enak untuk dinikmati selama Anda tak terlalu mementingkan pesan moral yang dibawa oleh kisah fiksi ilmiah ini.
And this is the punch line! According to the writer, Klaatu is a robot, no, not an alien, but a robot. And how can you say that we shouldn’t pay attention to the moral of the movie? THAT IS WHAT THE MOVIE WAS ALL ABOUT!
Idiot. While probably thousands of good journalists may probably still trying to get themselves a decent job, idiots like this one can stay along and write dumbfounding and misleading reviews. If there are going to be layoffs in KapanLagi.com, I’ll vote for whoever kpl/roc may be.